Harry Kane Tegaskan Target Inggris di Piala Dunia 2026

Harry Kane tak mau lagi berbicara soal progres atau pencapaian setengah jalan. Menjelang Piala Dunia 2026, kapten timnas Inggris itu menegaskan satu hal yang sangat jelas: hanya trofi juara yang bisa memuaskan dirinya, tim, dan publik Inggris. Setelah bertahun-tahun “nyaris”, Three Lions kini masuk fase di mana ekspektasi berubah menjadi tuntutan.
Bagi Kane, Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen besar berikutnya. Ini adalah ujian akhir dari proyek panjang Inggris yang dimulai sejak 2018. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, Inggris datang bukan lagi sebagai tim potensial, melainkan kandidat juara yang wajib membuktikan diri.
Inggris Datang ke Piala Dunia 2026 dengan Modal Sempurna
Jika bicara soal apa dan bagaimana, performa Inggris menuju Piala Dunia 2026 nyaris tanpa cela. Di bawah arahan Thomas Tuchel, Inggris menyapu bersih delapan laga kualifikasi dengan kemenangan. Lebih gila lagi, mereka mencetak 18 gol dan tidak kebobolan satu pun.
Catatan ini bukan sekadar statistik kosmetik. Inggris bahkan memperpanjang rekor clean sheet mereka menjadi 10 laga kompetitif beruntun tanpa kebobolan, menyamai rekor tim Eropa yang sebelumnya dipegang Spanyol era 2014–2016. Artinya, Inggris kini bukan hanya kuat di depan, tetapi juga matang secara struktur bertahan.
Hasil kualifikasi ini mengantar Inggris ke Grup L Piala Dunia 2026 bersama Ghana, Kroasia, dan Panama. Secara di atas kertas, Inggris difavoritkan lolos. Namun pengalaman masa lalu membuat Kane dan kolega paham, fase grup hanyalah pintu masuk menuju tantangan sesungguhnya.
Luka Lama Inggris Akankah Terulang
Untuk memahami kenapa ambisi Kane kini begitu keras, kita perlu menengok ke belakang. Inggris dalam delapan tahun terakhir adalah tim yang konsisten berada di fase akhir turnamen besar. Semifinal Piala Dunia 2018, perempat final Piala Dunia 2022, serta dua kali final Euro—semuanya menunjukkan stabilitas level elite.
Namun konsistensi itu juga menyisakan luka. Kekalahan dari Kroasia di semifinal 2018, tersingkir oleh Prancis di Qatar, lalu dua final Euro yang berakhir tanpa trofi, membuat narasi “almost there” terus melekat pada Inggris.
Kane mengakui, bahkan saat mencapai final Euro, suara sumbang tetap terdengar. Bagi publik Inggris, kalah di final tetaplah kalah. Di titik inilah mental juara diuji. Kane menyadari, selama Inggris belum mengangkat trofi besar, tekanan itu tidak akan pernah benar-benar hilang.
Harry Kane, Mesin Gol dan Beban Ekspektasi
Dari sisi Harry Kane tetap menjadi pusat cerita. Kapten berusia 31 tahun itu bukan hanya pemimpin di ruang ganti, tetapi juga tumpuan utama di lapangan. Secara individu, Kane hanya terpaut dua gol dari rekor Gary Lineker sebagai pencetak gol terbanyak Inggris di Piala Dunia.
Performa klubnya bersama Bayern Munchen musim 2025/2026 juga berada di level elite. Kane sudah mengoleksi 32 gol dari 29 pertandingan di semua kompetisi, menjadikannya pemain tersubur di lima liga top Eropa, mengungguli nama besar seperti Kylian Mbappé.
Namun, Kane kini berbicara tentang hal yang berbeda. Ia tak lagi terobsesi angka gol semata. Fokusnya bergeser ke satu hal: memenangkan momen krusial. Dalam turnamen besar, kualitas teknis saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah ketenangan saat tekanan memuncak, entah itu penalti, menit akhir, atau laga gugur hidup-mati.
Tekanan, Peringkat Dunia, dan Status Favorit
Masuk Piala Dunia 2026, Inggris berada di peringkat empat dunia. Status ini otomatis menempatkan mereka sebagai salah satu unggulan juara. Kane tidak menghindari fakta tersebut. Justru menurutnya, ekspektasi itu harus diakui dan dikelola, bukan ditolak.
Inilah fase dewasa Inggris. Jika dulu mereka datang sebagai underdog yang penuh potensi, kini mereka datang sebagai tim matang dengan skuad berisi pemain yang sudah kenyang pengalaman di Liga Champions dan liga top Eropa.
Thomas Tuchel membawa pendekatan yang lebih pragmatis dan disiplin. Inggris tidak selalu bermain spektakuler, tetapi efisien. Dari sudut pandang penulis sepak bola, inilah pergeseran penting: Inggris mulai nyaman menang dengan cara “tidak cantik”, sesuatu yang sering menjadi ciri tim juara.
Kapten Inggris dan Puncak Karier
Bagi Kane secara pribadi, memimpin Inggris di Piala Dunia tetap menjadi kehormatan tertinggi dalam kariernya. Ia tumbuh sebagai fans timnas Inggris, bahkan lebih dari sekadar penggemar klub. Menjadi kapten Three Lions adalah mimpi masa kecil yang kini sudah dijalaninya bertahun-tahun.
Namun Kane juga sadar waktu tidak menunggu. Tahun demi tahun berlalu cepat. Piala Dunia 2026 bisa menjadi kesempatan emas terakhirnya untuk mengangkat trofi terbesar bersama Inggris. Itulah mengapa ambisinya terdengar lebih tegas, lebih personal, dan lebih mendesak.
Saatnya Inggris Membayar Proses Panjang
Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung penentuan bagi Inggris dan Harry Kane. Semua fondasi sudah dibangun: skuad matang, pelatih berpengalaman, statistik solid, dan mental yang ditempa kegagalan berulang.
**dari berbagai Sumber
