Ambisi Neymar Berlaga di Piala Dunia 2026

Harapan publik sepak bola Brasil untuk melihat bintang terbesarnya, Neymar Jr, kembali mengangkat trofi emas tampaknya masih jauh dari kata padam. Meski melewati tahun 2025 yang penuh badai cedera dan inkonsistensi, pemain yang kini merumput kembali bersama Santos FC itu melontarkan pesan optimisme yang kuat: ia yakin bisa menembus skuad Piala Dunia 2026 dan membawa Selecao kembali ke puncak kejayaan.
Bagi pecinta sepak bola tanah air, sosok Neymar memang selalu mengundang perdebatan. Namun, satu hal yang pasti, ambisinya belum luntur. Saat ini, Neymar sedang berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "nama besar", melainkan aset teknis yang masih dibutuhkan oleh tim nasional Brasil.
Sinyal Optimisme dari Santos
Neymar baru-baru ini mencuri perhatian saat menghadiri sebuah event sepak bola di Brasil. Di sela-sela kemeriahan turnamen tersebut, ia memberikan pernyataan yang langsung menjadi berita utama di berbagai media olahraga internasional.
"Kita memulai tahun 2026 dengan langkah yang benar. Sekarang fokus kita adalah Juni dan Juli. Jika Tuhan menghendaki, semuanya akan berjalan lancar dan Brasil akan menjadi juara lagi," tegas Neymar.
Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi. Ini adalah penegasan posisi bahwa secara mental, Neymar sudah siap mengarungi ketatnya persaingan menuju Amerika Utara (AS, Meksiko, dan Kanada). Namun, pertanyaannya tetap sama: Apakah fisiknya sanggup mengikuti kemauan mentalnya?
Tembok Besar Bernama Carlo Ancelotti
Dari sudut pandang strategi, Carlo Ancelotti dikenal sebagai pelatih pragmatis yang tidak akan memanggil pemain hanya berdasarkan reputasi besar di masa lalu. Tantangan utama Neymar terletak pada absennya ia dari skuat Brasil sejak 2023, yang menciptakan celah chemistry cukup lebar dengan barisan bintang muda seperti Vinicius Jr dan Rodrygo. Terlebih lagi, Ancelotti telah menetapkan standar ketat bahwa hanya pemain dengan tingkat kebugaran 100% dan menit bermain reguler yang berhak masuk ke dalam skema kompetitif menuju Piala Dunia mendatang.
Di usianya yang menginjak 34 tahun, Neymar juga dituntut untuk melakukan evolusi peran guna mengimbangi penurunan kecepatan fisiknya. Ia tidak lagi bisa diandalkan sebagai pelari sayap yang lincah, melainkan harus bertransformasi menjadi seorang playmaker murni atau pemain nomor 10 yang mengatur ritme permainan. Keberhasilan Neymar kembali ke tim nasional sangat bergantung pada kemampuannya beradaptasi dengan visi taktis Ancelotti, yang lebih mengutamakan efisiensi kolektif daripada sekadar aksi individu yang gemilang.
Panggung Pembuktian Terakhir
Kembalinya Neymar ke Santos, klub masa kecilnya, adalah langkah strategis. Bermain di Liga Brasil memberinya menit bermain yang lebih terjamin dibandingkan bertahan di Arab Saudi dengan intensitas yang berbeda. Setiap laga di kompetisi domestik Brasil kini menjadi "audisi" bagi Neymar di mata Ancelotti.
Jika ia mampu tampil konsisten dan terhindar dari cedera kambuhan di sisa musim ini, peluangnya untuk dipanggil kembali ke skuad nasional sangat terbuka lebar. Pengalaman internasional Neymar tetap menjadi atribut mahal yang sulit dicari tandingannya dalam situasi tertekan di fase gugur Piala Dunia.
Dampak bagi Timnas Brasil dan Peta Persaingan Dunia
Brasil saat ini berada dalam posisi yang unik di klasemen kualifikasi dan peringkat FIFA. Mereka masih menjadi kekuatan menakutkan, namun performa kolektif mereka sering dipertanyakan saat menghadapi tim-tim Eropa yang disiplin secara taktik.
Kehadiran Neymar—jika fit—bisa menjadi game changer. Ia bisa menjadi mentor bagi talenta muda sekaligus memecah kebuntuan lewat bola-bola mati atau visi operannya yang jenius. Namun, jika ia gagal mencapai level fisik yang diminta Ancelotti, keberadaannya justru berisiko menjadi beban bagi tim yang mengandalkan transisi cepat.
**dari berbagai Sumber
