Ancaman Kartel Meksiko Bayangi Piala Dunia 2026

Sebuah insiden berdarah baru saja mengguncang jagat sepak bola Meksiko. Di tengah persiapan menyambut Piala Dunia 2026, aksi penembakan brutal terjadi di sebuah lapangan sepak bola amatir di Kota Salamanca, Negara Bagian Guanajuato. Tragedi yang menewaskan 11 orang ini kembali memicu diskusi panas mengenai kesiapan dan keamanan Meksiko sebagai salah satu tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di planet ini.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Minggu (25/01/2026) waktu setempat, tepat setelah sebuah pertandingan persahabatan usai. Sekelompok orang bersenjata dilaporkan menyerbu area lapangan dan melepaskan tembakan membabi buta ke arah penonton dan pemain.
Wali Kota Salamanca, César Prieto, mengonfirmasi bahwa 10 korban tewas di lokasi kejadian, sementara satu orang lainnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit. Ironisnya, di antara belasan korban luka, terdapat wanita dan anak-anak yang seharusnya menikmati sore yang santai dengan menonton sepak bola.
"Ini adalah serangan pengecut yang sangat menyedihkan. Fenomena ini menunjukkan adanya kerusakan sosial yang serius," ujar Prieto dalam pernyataan resminya.
Mengapa Ini Menjadi Ancaman Nyata bagi Piala Dunia 2026
Secara geografis, lokasi kejadian (Guanajuato) berbatasan langsung dengan Jalisco, negara bagian yang menaungi Kota Guadalajara—salah satu kota penyelenggara (host city) Piala Dunia 2026. Kedekatan lokasi ini memicu kekhawatiran global terkait keselamatan suporter mancanegara yang akan memadati wilayah tersebut hanya dalam hitungan bulan ke depan.
Beberapa poin krusial terkait kondisi keamanan di Meksiko saat ini mencakup dominasi kartel dan perang faksi yang dipicu oleh kekosongan kekuasaan pasca penangkapan Ismael "El Mayo" Zambada, serta tingginya angka pembunuhan di zona merah Guanajuato akibat perebutan jalur distribusi oleh kelompok kriminal. Situasi ini telah memicu tekanan internasional yang signifikan, di mana Presiden AS Donald Trump terus mendesak Presiden Claudia Sheinbaum untuk mengambil tindakan lebih represif terhadap kartel sebagai syarat kelancaran kerja sama regional antar kedua negara.
Pertaruhan Citra dan Tantangan FIFA
Meskipun data pemerintah menunjukkan adanya penurunan rata-rata pembunuhan harian hingga 37% di bawah kepemimpinan Sheinbaum, insiden "high-impact" seperti di Salamanca ini memberikan pukulan telak bagi citra pariwisata dan olahraga Meksiko.
Bagi FIFA dan komite penyelenggara, menjamin keamanan di stadion mungkin relatif mudah. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga keamanan di luar perimeter stadion, termasuk area publik, zona transportasi, dan lapangan-lapangan latihan yang tersebar di wilayah penyangga.
Jika eskalasi kekerasan tidak segera diredam, bukan tidak mungkin FIFA akan memperketat protokol keamanan yang berimbas pada pembatasan zona suporter (Fan Zone) atau bahkan perubahan lokasi pemusatan latihan bagi tim-tim nasional peserta yang dijadwalkan berlaga di wilayah Meksiko.
Tragedi Salamanca bukan sekadar berita kriminal biasa; ini adalah alarm keras bagi otoritas keamanan Meksiko. Di tahun 2026, mata dunia akan tertuju ke sana. Keberhasilan Piala Dunia bukan hanya diukur dari megahnya gol yang tercipta, melainkan dari rasa aman yang dirasakan oleh jutaan orang yang hadir untuk merayakan sepak bola.
**dari berbagai Sumber
