Mengenang Kejayaan Timnas Prancis di Piala Dunia 1998

Berbicara soal sejarah Piala Dunia, edisi 1998 akan selalu menempati ruang istimewa. Bukan hanya soal status Prancis sebagai tuan rumah terakhir yang sukses mengangkat trofi di rumah sendiri, tetapi juga tentang bagaimana sepak bola mampu membungkam sentimen politik lewat prestasi yang solid di lapangan hijau.
Sejak format modern diberlakukan, memenangkan trofi di hadapan pendukung sendiri adalah misi yang hampir mustahil. Dari 11 edisi terakhir Piala Dunia, hanya Prancis yang mampu melakukannya, mematahkan kutukan tuan rumah sekaligus mengukuhkan dominasi "Les Bleus" di kancah global.
Keberhasilan Prancis pada 1998 bukan sekadar kemenangan taktik. Kala itu, atmosfer politik Prancis tengah memanas akibat meningkatnya pengaruh Jean-Marie Le Pen, pemimpin sayap kanan yang kerap mengkritik komposisi tim nasional karena banyaknya pemain keturunan imigran.
Skuad asuhan Aimé Jacquet menjawab kritik tersebut dengan trofi. Kemenangan ini pun dirayakan sebagai kemenangan keberagaman. Para pemain seperti Zinedine Zidane (keturunan Aljazair), Patrick Vieira (kelahiran Senegal), hingga Marcel Desailly (kelahiran Ghana) membuktikan bahwa harmoni multikultural adalah kekuatan utama Prancis, bukan kelemahan.
Drama Ronaldo dan Dominasi Zizou di Final
Laga final di Stade de France yang mempertemukan Prancis vs Brasil akan selalu diingat karena drama di luar nalar. Menjelang kick-off, publik dunia gempar karena nama mega bintang Brasil, Ronaldo Nazario, sempat hilang dari daftar susunan pemain dan digantikan oleh Edmundo.
Ronaldo ternyata mengalami kejang-kejang saat tidur siang dan harus dilarikan ke rumah sakit. Meski akhirnya dipaksakan tampil selama 90 menit, "Sang Fenomena" tampak kehilangan taringnya. Brasil pun tampil lesu dan gagal mengembangkan permainan sejak awal laga.
Momen inilah yang dimanfaatkan oleh Zinedine Zidane. Sang maestro lapangan tengah tersebut mencetak dua gol lewat sundulan kepala—sebuah kemampuan yang bahkan ia akui bukan keahlian utamanya. "Mencetak dua gol lewat kepala sungguh luar biasa. Saya tidak terlalu jago dalam duel udara, tapi umpan yang datang sangat sempurna," ujar Zidane setelah pertandingan.
Taktik Solid dan Peran Lilian Thuram
Meski Zidane menjadi bintang panggung di final, perjalanan Prancis ke podium juara juga disokong oleh pertahanan yang sangat disiplin. Salah satu momen paling ikonik dalam sejarah turnamen ini adalah aksi heroik Lilian Thuram di semifinal melawan Kroasia.
Thuram, seorang bek kanan yang sepanjang karier internasionalnya tidak pernah mencetak gol lagi, tiba-tiba menjadi "mesin gol" dadakan. Setelah melakukan blunder yang membuat Prancis tertinggal lewat gol Davor Suker, Thuram menebusnya dengan mencetak dua gol spektakuler—termasuk tendangan melengkung kaki kiri dari luar kotak penalti—untuk membawa Prancis menang 2-1.
Prancis akhirnya mengunci kemenangan 3-0 di final setelah Emmanuel Petit menambah keunggulan di menit-menit akhir lewat assist rekan setimnya di Arsenal, Patrick Vieira. Skor tersebut menjadi cerminan dominasi total Prancis atas Brasil yang tak berdaya.
Kemenangan ini mengubah peta kekuatan sepak bola dunia. Prancis bukan lagi tim "pelengkap" di Eropa, melainkan kekuatan besar yang kelak akan kembali menjuarai Piala Dunia pada 2018. Bagi para pencinta sepak bola, 1998 adalah bukti nyata bahwa ketika talenta luar biasa bersatu dengan semangat kebangsaan yang inklusif, sejarah emas bukan lagi sekadar mimpi.
Menurut Anda, apakah skuad Prancis 1998 lebih kuat dibandingkan dengan timnas Prancis yang menjuarai Piala Dunia 2018 lalu?
**dari berbagai Sumber
